Prolog dan Epilog

Posted by kiki hartono Jumat, 22 Februari 2013 0 komentar
Prolog dan Epilog
 

Prolog di depan. Epilog di belakang. Kita tahu itu. Tapi, penggunaan prolog dan epilog dalam sebuah buku pada mulanya tidak dimaksudkan sebagai pengantar dan penutup dari sebuah karya, seperti yang saat ini sering kita temukan di buku-buku fiksi maupun nonfiksi.

Semula pasangan prolog dan epilog itu menjadi sisipan atau lampiran pada karya sastra, khususnya drama. Meskipun demikian, "prologos" di masa Yunani kuno memiliki posisi yang jauh lebih penting daripada prolog di masa modern, karena dia memberi penjelasan untuk adegan pertama: seorang tokoh, biasanya dewa, muncul di panggung kosong dan menjelaskan kejadian-kejadian yang mendahului drama tersebut. Di panggung drama Latin, prolog digunakan seacara lebih luas, misalnya dalam kasus Rudens karya Plautus, yang justru memuat beberapa puisi terbaiknya.

Di Inggris pada zaman kuda masih menggigit besi, sebuah pertunjukan drama dimulai dengan sebuah pesan moral. Ini mungkin mirip murwa atau suluk pembuka pakeliran wayang. Thomas Sackville, penulis drama dan penyair abad ke-16, menggunakan sebuah "pertunjukan diam" sebagai prolog pada drama Inggris pertama, The Tragedie of Gorboduc, yang dipentaskan pada 1561.

William Shakespeare, misalkan, memulai Henry IV Part 2 dengan tokoh Rumour di panggung. Rumour bukanlah tokoh sungguhan, karena tidak mewakili karakter apa pun dalam drama ini, tapi personifikasi semi-mitologis. Dalam Prolog, Rumour memperkenalkan dirinya dan menjelaskan tugasnya sebagai penyebar kabar palsu, yang memicu negeri damai menjadi perang dan membuat orang mengira negerinya tenteram padahal sedang terancam bahaya.

Adapun Epilog adalah sepotong kisah jenaka yang bermaksud mengantar penonton teater pulang ke rumah dengan suasana hati penuh humor. Bentuk teater Inggris ini dibakukan oleh Ben Jonson dalam Cynthia's Revels (sekitar 1600). Epilog Jonson ini disisipi paparan sisi-sisi baik dari dramanya dan membelanya dari kritik yang mungkin muncul.

Maraknya penggunaan prolog dan epilog di teater Inggris terjadi dalam periode Restorasi, kira-kira di masa kekuasaan Raja Charles II (1660-1685). Sejak 1660 hingga meredupnya teater di masa kekuasaan Ratu Anne, hampir tak ada drama yang diproduksi di London tanpa menyertakan prolog dan epilog. Para penulis drama meminta teman-temannya untuk menulis puisi-puisi untuk prolog dan epilog karya mereka. Puisi-puisi yang diberikan para pengarang yang reputasinya sudah mapan ini menaikkan prestis pada karya-karya muda.

Tren pada pertengahan abad ke-17 inilah barangkali yang kini menular pada penggunaan "kata pengantar" yang ditulis kolega sang penulis buku atau malah oleh orang luar, biasanya seorang ahli di bidang yang menjadi subyek dari buku tersebut.

Setidak-tidaknya sejak The Canterbury Tales karya Geoffrey Chaucer terbit pada abad ke-14, prolog sudah digunakan secara luas untuk kebutuhan karya fiksi nonteater. Tapi, perlu dicatat bahwa dalam karyanya itu Chaucer menulis satu prolog untuk setiap cerita, bukan satu prolog untuk seluruh kumpulan ceritanya.

Epilog sudah jarang ditulis setelah abad ke-18, tapi prolog malah digunakan secara efektif dalam teater abad ke-20 seperti Jedermann (1911) karya Hugo von Hofmannsthal, Our Town (1938) karya Thornton Wilder, Glass Menagerie karya Tennessee Williams, dan Antigone karya Jean Anouilh, kedua karya terakhir terbit pada 1944.

0 komentar:

Poskan Komentar

Total Tayangan Laman